Promo menarik pada undian Data SGP 2020 – 2021.

Jakarta, Selular. ID – F5 mencanangkan laporan 2021 State of Application Strategy. Dalam iterasi ketujuh ini, F5 mengidentifikasi beberapa tren yang terkonvergensi, dimana banyak diantaranya telah terpengaruh ketika sebuah pola meningkatkan digital experience itu sebagai respons terhadap realita konsumen yang berkembang di era COVID-19.

Perusahaan telah mempercepat alterasi digital mereka dalam kepala tahun terakhir, dan diprediksi akan terus berlanjut setelah pandemi. Dengan keterbatasan di melakukan interaksi secara langsung, aplikasi – dan digital experience lain yang itu fasilitasi – menjadi sebangun dengan kehadiran dan kemampuan sebuah organisasi untuk menetap dan berkembang.

“Laporan tahun ini mengamati banyaknya perbedaan prioritas dengan dihadapi tim IT masa ini. Yang paling umum adalah fleksibilitas serta ketenteraman versus keamanan, juga ketika perusahaan mengorganisir sejumlah mulia data dan disaat bersamaan membutuhkan cara untuk melangsungkan ekstrak data yang bermanfaat, ” ucap Kara Sprague, EVP dan GM, BIG-IP, F5.

“Demikian pula, kami menemukan kalau perusahaan semakin mengandalkan otomatisasi untuk mengurangi biaya berdiam, sambil terus menyesuaikan permintaan dengan digital experience yang berfokus kepada pelanggan. Banyak diantaranya adalah fungsi sejak kecepatan sebuah industri menanggapi COVID — yang memaksa banyak sekali pertimbangan operasional, kekhawatiran, dan peluang buat ditangani secara bersamaan di dalam waktu yang singkat, ” imbuhnya.

Meningkatkan konektivitas, mengurangi latensi, mengambil keamanan, dan memanfaatkan data insight kini menjadi situasi yang sangat penting, sebab tim IT merasa dekat tidak mungkin untuk membalas laju perubahan dan digitalisasi. Disamping itu, meskipun microservices, APIs, dan containers bisa mempercepat penerapan aplikasi pribadi dari perspektif DevOps, penguasaan dan luasnya aplikasi modern juga menjadi lebih kompleks— dimana banyak organisasi yang tidak memiliki keterampilan buat benar-benar menyederhanakan penerapannya. Situasi ini terutama saat menganalogikan portofolio aplikasi yang lebih luas dan mencakup kira-kira generasi dari application architectures. Sejalan dengan itu, studi ini berpusat pada 4 trend, yaitu peningkatan keinginan terhadap cloud dan penawaran as-a-service, edge computing, serta keamanan aplikasi serta teknologi pengiriman yang membutuhkan lebih sedikit keahlian untuk menyebarkan dan mengelola sambil menyimpan out-of-the-box insight.

“Di era digital saat ini, setiap organisasi beruang dalam bisnis yang memerlukan digital experience. Konsumen semakin mengandalkan konektivitas digital di semua aspek kehidupan itu, dan hal ini sudah mendorong aplikasi menjadi lebih penting dalam strategi kongsi dan dalam perekonomian, ” ucap Surung Sinamo, Country Manager F5 Indonesia.

“Laporan tahun ini adalah cerminan yang nyata dari tren yang tumbuh saat ini. Karena usaha terus berinvestasi untuk semakin meningkatkan kualitas dari portofolio aplikasi yang dimiliki, istimewa untuk memastikan bahwa sebuah aplikasi harus dapat beradaptasi, terukur, dan memiliki keterampilan untuk memulihkan diri sendiri dalam berbagai keadaan. Dengan semakin meningkatnya peluang pasca-COVID, pelaku bisnis perlu merencanakan strategi mengedepankan teknologi seperti edge computing dan data analytics untuk mengoptimalkan penggunaan yang dimiliki sehingga dapat memenuhi keinginan konsumen untuk bisa mendapatkan pengalaman digital kelas dunia. ”

Modernisasi Apps and Architectures secara berkelanjutan untuk menciptakan digital experience dengan lebih baik

Berdasarkan survei, 87% pola menjalankan metode arsitektur modern dan tradisional secara berbenturan, dimana modernisasi dianggap perlu ketika sistem lama kesulitan untuk beradaptasi dengan suasana bisnis yang berubah secara cepat. Lebih dari 3/4 responden (77%) melaporkan kalau mereka saat ini memodernisasi aplikasi internal atau yang berhubungan dengan pelanggan, secara API sebagai solusi utama dikarenakan kemampuannya untuk menggabungkan fungsi komponen aplikasi tradisional dan modern. Sebagai tambahan, secara persentase jumlah organisasi yang mengelola multiple app architectures terus meningkat, yang mana berdasarkan survei didapatkan kalau penawaran as-a-service dan managed service terus dipandang sebagai pengganti untuk beberapa pelaksanaan tertentu di mana vendor dapat menyediakan rencana alternatif yang cloud-friendly.

The Rise of the Edge as Containerization Expands

Edge computing umumnya mengacu pada operasi yang dilakukan di sungguh centralized data center. Secara karyawan dan konsumen dengan login dari lokasi yang tersebar, edge computing telah diidentifikasi sebagai cara dengan signifikan untuk mengurangi latensi dan meningkatkan daya respon real-time yang diperlukan sebab aplikasi saat ini. Oleh karena itu, edge harus berkembang untuk lebih menanggung modular application components seperti container yang berada pada beberapa lokasi cloud. Selain meningkatkan kecepatan dan efisiensi, penempatan containerized applications dalam dalam edge juga dapat meningkatkan scalability dan customer experience. Sebagai bukti, buatan survei mencatat bahwa 76% organisasi telah menerapkan ataupun secara aktif merencanakan implementasi edge, dengan peningkatan kemampuan aplikasi serta pengumpulan petunjuk / enabling analytics sebagai primary drivers.

Mempercepat Pertumbuhan SaaS dan Cloud Deployments, untuk Menyamakan Fleksibilitas dan Keamanan

Dengan persentase pelaksanaan yang diterapkan di cloud meningkat, lebih dari 2/3 responden (68%) juga hosting setidaknya beberapa application security dan delivery technologies dalam cloud. Bilamana yang setara, organisasi memposisikan diri mereka untuk mengatasi architectural complexity yang disebabkan oleh penambahan SaaS dan edge solutions, pemeliharaan lingkungan on-premise dan multi-cloud, serta modernizing applications. Keberhasilan integrasi dari elemen-elemen ini ke dalam desain aplikasi yang kohesif akan memerlukan peningkatan cara menerapkan alat, rangkaian keterampilan, proses IT, dan metode analitik dalam arsitektur yang dinamis (dynamic architectures). Keamanan akan terus menjadi hal dengan utama, dimana dituntut untuk dapat selangkah lebih lulus dari para penyerang, biasanya memerlukan kemampuan lebih dari apa yang dimiliki sebuah organisasi. Oleh karena itu mengenai tantangan ini, SaaS for security diidentifikasikan jadi top strategic trend dibanding para responden.

Pentingnya Telemetri dalam Memenuhi Perkembangan Ekspektasi Pelanggan serta Bisnis

Penggunaan telemetri untuk mengubah bagian data yang besar menjadi business insights sangat penting dalam aplikasi adaptif (adaptive applications). Meski begitu, 95% responden masih percaya kalau mereka kekurangan insights mengenai kinerja, keamanan, dan ketersediaan, yang menunjukkan keinginan kepada solusi yang jelas dan end-to-end, dibandingkan metode pemantauan dan analisis mereka masa ini. Setiap individu pada suatu organisasi memiliki kata sepakat yang sama tentang topik tersebut, mengutip tiga top insights yang masih dianggap terlewatkan, antara lain: pokok dari sebuah masalah di aplikasi; penyebab penurunan kemampuan; dan detail dari potensi serangan. Secara paralel, dekat 3/4 responden berniat menggunakan AI untuk mengoptimalkan masukan telemetri dengan lebih cara, dan lebih dari setengahnya mengharapkan AI dapat membantu organisasi mereka untuk bertransisi ke aplikasi yang dapat secara otomatis beradaptasi untuk lebih baik dalam membela diri dan responsif secara kondisi yang terus berubah.

Laporan ini mewakili lebih dari satu. 500 responden di segenap dunia, dengan sebagian mulia responden berasal dari Asia Pasifik, dari berbagai pabrik, organisasi, dan profesional. Pada dasarnya, survei ini berfokus di pembuat keputusan IT untuk menyoroti prioritas, kekhawatiran, dan ekspektasi bagi mereka dengan paling bertanggung jawab buat menghadapi tantangan terberat dalam ekonomi digital saat ini.