Info seputar HK Prize 2020 – 2021.

  Jakarta, Selular. ID – Pandemi Covid-19 mengganti banyak pandangan masyarakat di era baru ini, tak terkecuali pada sektor Kesehatan. Gaya hidup bugar semakin ditingkatkan, tak ketinggalan teknologi melaui wearable device pun berangkat diandalkan tajinya sebagai personal health care.

Teguh Prasetya, Ketua Umum Asosiasi IoT Nusantara menjelaskan, jika smart wearable device di tahun 2021 akan tumbuh potensial, karena diperediksi setiap tahunya perangkat cerdas ini tumbuh 30 persen.

“Tahun ajaran diperkirakan akan ada 30 juta smartphone baru diluncurkan, kemudian dalam setiap peluncuranya juga didampingi wearable sebagai perangkat IoT yang terbubung ke ponsel pintar, dan jumlah dari wearable itu pasti lebih banyak dari ponselnya. Hal ini juga memperkuat keyakinan kita kalau penetrasi wearable di tanah air, dan perangakat IoT pada biasanya akan tumbuh positif kedepan, ” terang Teguh, di forum Digital Telco Outlook 2021: ‘Menakar Peluang Bisnis Wearable Device dan IoT Di Indonesia’.

Mengucapkan juga:   Pemerintah Himbau PEMDA Jernih Melihat Peluang Di Pabrik Telko  

Kendati potensial Teguh melihat keberadaan set smart wearable di Indonesia masih terganjal sejumlah tantangan. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan berdasarkan surveri Statista (2019) bahwa kebanyakan warebales, khususnya smartwatch dikenakan oleh mereka dengan berada di umur 25-44 (69%), diatasnya yaitu umur 55 tarikh memakai tracker band.

“Menjadi menarik, berdasarkan survei ini mereka yang berada dalam umur 45 tahun keatas tersebut merupakan konsumen yang belum terendukasi, jadi mereka masih mengenakan tanda tangan tradisional ketimbang smartwatch, ini mungkin karena mereka belum mengetahui teknoloigi dari jam tangan berpendidikan. Padahal mereka itu memiliki buying power yang kuat, ” jelasnya.

Kemudian perkembangan wearable device yang didorong oleh masa pandemi tak dipungkiri juga semakin menguatkan. Karena kebutuhan personal health care yang semakin meningkat, sesuai untuk mengukur tekanan darah, detak jantung, kadar oksigen dalam tubuh terasa kian menjawab kebutuhan.

“Dan karena terhubung ke smartphone, perangkat ini juga telah menjadi lifestyle, jadi ada pandangan jika tak terhubung seperti ketinggalan zaman, ” kata Teguh.

Baca juga:   Konsekuensi Kebijakan IMEI, Brand Smartphone Telah Mendulang Untung

Secara sistem pemanfaatan personal health care di tanah air juga belum termanfaatkan dengan sempurna, dari segi data karena ini sifatnya personal health care, mustinya dapat termanfaatkan dengan baik sekaligus terhubung ke fasilitas public healthcare yang lebih luas.   Kemudian karena tersebut alat pintar healthcare izinnya daripada pemerintah pun susah tentunya.

Lalu ada juga persoalan keamanan data karena data kesehatan merupakan data pribadi, jadi kemaluan proteksi dan ini tentu masih menunggu regulasi dari UU perlindungan data pribadi (PDP) yang cukup dikebut oleh pemerintah.

Manfaatkan Brand Shop

Sementara itu Lo Khing Seng, Deputy Country Director Huawei Device Indonesia, yang serupa hadir dalam forum ini serupa menjelaskan, memang endukasi untuk keluaran wearable device di Indonesia sedang belum kuat. Terlebih bagi mereka yang memiliki potensi buying power,   seperti yang diungkap sebab Ketua Umum Asosiasi IoT Nusantara itu.

Untuk menyambut tantangan (endukasi) sekaligus strategi Huawei untuk mengapai konsumen yang lebih luas, ialah menghadirkan produk ekosistem channel yang clear.

Baca juga:   Menakar Tantangan Perluasan Jaringan Internet Nusantara  

“Memang untuk membeli jam tangan pintar benar tidak dijual di toko jam konvensional, akhirnya konsumen pun membelinya via online atau di brand shop karena pembeli tahu pasti semua produk itu ada. Siap memang sulit jualan smartwatch/wearable device di toko jam biasa, mungkin belum terbiasa serta endukasi buatan di toko itu masih kecil, ” terang Khing.

Jadi tantangan terbaru bagi saya adanya produk ekosistem channel dengan efektif dan efesien untuk menargetkan konsumen kita. Untuk itu kita akan terus menambah brand shop Huawei.

“Tahun pendahuluan kita akan lebih agresif hadirkan brand shop Huawei dan pula menguatkan online channel kita,   dengan hal ini konsumen bertambah mudah mendapatkan produk wearable dan juga produk IoT Huawei.   Lalu kita juga akan hadirkan endukasi melalui experience skenario smarthome, smart living room, agar   tidak hanya kelangan atas, asosiasi menengah juga punya bayangnan perkara smarthome ini, ” tandasya

Baca juga:   Menilai Kebijakan Network Sharing dan Frequency Sharing dalam Persiapan 5G

Sekedar informasi selain wearable device, bisnis yang bersinar di era internet cepat adalah IoT (Internet of Things). IoT menunjuk pada jaringan perangkat fisik, instrumen, peralatan keluarga, dan barang-barang yang lain yang ditanam perangkat elektronik, unit lunak, sensor, aktuator, dan konektivitas.

Kajian Asosiasi IoT Indonesia, menunjukkan potensi IoT pada tanah air sebesar 400 juta perangkat dengan nilai bisnis sejumlah Rp444 triliun pada 2022. Poin tersebut disumbang dari konten & aplikasi sebesar Rp192, 1 triliun, disusul platform Rp 156, 8 triliun, perangkat IoT Rp56 triliun, serta network dan gateway Rp39, 1 triliun.