Bonus harian di Keluaran SDY 2020 – 2021.

Jakarta, Selular. ID – Usaha mikro kecil serta menengah (UMKM) disebut mampu menjadi penolong usaha lokal kerakyatan. Selain itu UMKM juga digadang-gadang dapat membangun roda perekonomian ini tetap berputar, walaupun berada disituasi sulit sekalipun.

Dengan begitu, seperti apa strategi untuk mendorong UMKM lokal ini agar bisa terus berjaya di negeri sendiri? Walapun badai pandemi Covid-19 terus menerpa lajunya hingga kini, dan ditambah pula persaingan pasar digital khususnya, yang tak dipungkiri berlangsung kian sengit secara berbagai isu yang melatar belakanginya.

Pengantar

UMKM Lokal merupakan bagian penting roda perekonomian Indonesia,   potensinya begitu gembung, dengan banyak sumber dengan bisa digarap diberbagai daerah, entah itu yang berkaitan dengan sumber daya negeri, bidang kreatif atau bahkan yang berkaitan dari segala hal yang berbau ‘produk’ kebiasaan, tradisi & kebudayaan istimewa yang maha luas tersebut, dinilai memiliki nilai ekonomi yang terbilang potensial.

Sehingga bisa dibayangkan, bagaimana UMKM dengan segala sumber ini bisa termanfaatkan dengan baik, terlebih bila didorong dengan cara-cara digital yang memudahkan, mulai dari proses jual-beli, transaksi pembalasan hingga cara antar order yang semua itu sebenarnya sudah bisa kita rasakan saat ini.

Segala kemudahan yang telah terbentuk itu (ekosistem), ditambah pula banyak sektor/sumber gaya yang bisa digarap sudah sepantasnya jika UMKM kita bisa menjadi raja di negeri sendiri, atau apalagi mampu menjadi jawaban sebab kebutuhan pasar di sungguh Indonesia. Karena memang menetapkan diakui pula potensi keluaran lokal kita tidak tangan jika dibandingkan produk asing, terlebih Indonesia memiliki rekan yang sangat besar secara jumlah penduduk lebih sejak 270 juta jiwa.

Kemudian jumlah UMKM lokal Indonesia pun pula terbilang sangat besar, bila merujuk dari data Kementerian Koperasi dan UKM (KemenkopUKM) saat ini jumlah karakter UMKM di Indonesia mengenai angka 57 juta.

Lalu berbagai rencana untuk menguatkan UMKM lokal pun sudah sangat mengeliat, ditambah pemerintah kini kendati tengah memfokuskan diri buat menguatkan pelaku UMKM tersebut sendiri karena masuk kedalam bagian program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang kini anggaran di tahun tersebut meningkat menjadi Rp 184, 8 triliun, lebih mulia dibanding alokasi tahun berantakan yang hanya Rp 173, 17 triliun.

Di sektor infrastruktur, agar pelaku UMKM lokal mampu memasarkan produknya secara digital, Kementrian Komunikasi dan Informatika (kominfo) pun sedang menyiapkan pembangunan infrastruktur TIK untuk menjembatani kesenjangan akses Internet di seluruh wilayah Desa Air. Dengan target membawa internet 4G untuk semesta desa dan kelurahan, sampai pelosok negeri. Dengan harapan dapat membuka akses rekan UMKM seluas-luasnya dan merebak di wilayah Indonesia tercinta.

Permasalahan

Walaupun potensinya besar, ada sebanyak tantangan yang memang perlu kita benahi demi menjunjung tinggi UMKM lokal kita. Seperti bagaimana kita merespon persaingan itu sendiri, yang tak dipungkiri soal rumor UMKM lokal VS langka melalui predatory pricing dengan disebut Presiden RI Jokowi menjadi pembunuh UMKM lokal, menimbulkan tanda tanya tumbuh seperti apa sebenarnya karakter UMKM dalam negeri, serta seperti apa kendala terbesarnya kini.

Morat-marit yang juga menjadi bukti tanya besar ialah bagaimana ‘pandangan’ platform  e-commerce  kepada persaingan yang begitu pada dan cenderung bebas laksana sekarang ini. Dan laksana apa upaya untuk menciptakan platform dagang yang bugar dan adil, bagi para-para pelaku UMKM lokal.

Mengingat pula potensinya yang begitu besar, dengan sumber daya yang dimilikinya. Tak sedikit pula tantangan untuk bagaimana mengendukasi soal bagaimana membangun kualitas keluaran UMKM lokal dalam daerah agar bisa bersaing, tersendatnya pemasaran akibat kendala layanan internet yang belum menjalar sampai ke ujung negeri dan tak ketinggalan selalu ialah masalah yang pas berlarut yaitu akses permodalan.

Berdasarkan keterangan KemenkopUKM dari jumlah pelaku UMKM di Indonesia dengan mencapai 57 juta tersebut, baru 15 juta pelaku UMKM yang mendapat layanan keuangan formal (bank, teknologi finansial/Tekfin, perusahaan gadai dan lain sebagainya).

Sisanya, ada 30 juta pelaku UMKM masih memiliki layanan keuangan dari rentenir atau mengandalkan bantuan kerabatnya. Kemudian, 18 juta karakter UMKM belum terlayani institusi keuangan formal dan informal.

Bagi Kamu yang tertarik untuk mengikuti sesi menarik ini mampu langsung gabung melalui Official Facebook Selular. ID:   SELULARonline